Rabu, 20 November 2019

Follow us:

infobrand

infobrand

Membidik Pasar Milenial

Posted by: 13-03-2019 15:53 WIB 405 viewer

Membidik Pasar Milenial
Pakar pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure, Yuswohady

Berbicara digital dan milenial  itu dua hal yang saling berhubungan.   Enabler atau teknologi nya adalah digital, customernya  adalah  minenial.

Karakter milenial adalah digital.  Milenial memang generasi yang suka cerita, merekomendasikan, suka share ke milenial yang lain. Dia lahir sudah bersentuhan dengan digital dan dia suka  membuat brand, membuat story brand dan men-share  ke milenial yang lain. digital product. Walapun belum sepenuhnya digital, tidak seperti Gen Z itu semuanya digital. 

Peran milenial sebagai recommender  sangat besar karena suka sharing product. Dulu kita mengatakan, brand makin tua itu makan hebat.  Contoh CocaCola, General Electric, Teh Sosro,  Aqua dan sebagainya. Tapi milenial ini tidak mau disamakan dengan papanya.  Brand-brand papa nya dia gak mau, maunya brand sendiri.  Makanya muncul merk-merk seperti Teh Pucuk Harum atau Le Minerale misalnya. 

Referensi milenial ini mencari referensi yang lebih baru yang lebih konek dengan dia.  Makanya hati-hati dengan brand-brad yang sudah tua ini, karena dia harus cepat beradaptasi dengan menggaet pasar milenial ini. Kenapa mesti milenial? Karena generasi X dan generasi Baby Boomers itu nantinya akan habis digilas generasi milenial. Ini proses alam. Ketika pergantian generasi, brand lama yang basis customernya kebanyakan Gen X dan Baby Boomer, dia harus bisa memilah customer-nya.  Harus disi oleh  generasi  milenial . Kalau tak diganti makan akan sustainable.

Brand dimudahkan atau dibuat konek dengan milenial. BTPN misalnya, dia punya produk yang namanya Genius. Sekarang image BTPN  jadi milenial.  Memang harus melakukan re-branding, re-positioning,  agar brand nya lebih muda  dan milenial friendly. Kalau tak merubah imagenya, masih berpikir bahwa dia seperti 20-30 tahun lalu dan basis customer-nya masih gen X dan baby boomer, takutnya segmen milenial gak mau karena tak identik dengan dirinya. Mereka akan memilih brand yang sesuai dengan jaman dan era nya milenial.

Makanya brand-brand yang incumben ini harus hati-hati. Dia harus sukses melalui masa transisi ketika gen X nya pelan-pelan menghilang  karena pensiun dan seterusnya.  Sementara yang milenial ini  uangnya makin banyak, kehidupannya makin mature. Sehingga proses transisi pembilasan dari baby boomers ke gen X kemudian ke  generasi milenial ini  memang  harus dilakukan oleh brand-brand tua. 

Ini tantangan bagi brand-brand tua ini bagaimana bisa melewati masa transisi ini. Pergantian generasi dari generasi baby boomers ke generasi milenial.  Cara menjual dan bagaimana engage dengan customer menggunakan cara-cara milenial.

Yang bisa sukses di era milenial ini, pertama, tahu perilaku milenial. Produk diarahkan rohnya sesuai dengan perilaku milenial.  Brand itu mengkoneksikan roh/DNA brand dengan hatinya customer. Ketika milenial menjadi powerfull, maka mesti rohnya brand harus di link kan ke hatinya milenial.

Milenial ini mencakup di banyak status sosial. Tinggal produknya masuk ke segmen milenial yang mana. Tapi dalam hal penggunaan smartphone, milenial di kota maupun di desa sudah menggunakan itu.  Kita harus mengerti perilaku.  Milenial di desa sampai 60% di usia 20 – 35 tahun banyak di desa. Milenial itu diukur berdasarkan usia dan psikografisnya. []


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


3 Dompet Digital Terpopuler di Indonesia, Go-Pay Masih Juaranya!

3 Dompet Digital Terpopuler di Indonesia, Go-Pay Masih Juaranya!
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Perkembangan teknologi yang semakin masif telah berhasil membawa perubahan pada semua aspek di kehidupan manusia, tak terkecua...


Perhimpunan WALI Ingin Bisnis Franchise Indonesia Go Internasional

Perhimpunan WALI Ingin Bisnis Franchise Indonesia Go Internasional
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Berdiri sejak 20 tahun lalu, Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) masih menjadi asosiasi andalan yang menjadi ruj...


Emir Pohan: Legalitas, Instrumen Keberhasilan Franchise

Emir Pohan: Legalitas, Instrumen Keberhasilan Franchise
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Hukum menjadi sesuatu yang sangat penting dalam berkehidupan di negara ini. Semua kegiatan maupun aktivitas harus mengacu pada...


WFA Percaya Merek Waralaba Indonesia Bisa Berkembang di Pasar ASEAN

WFA Percaya Merek Waralaba Indonesia Bisa Berkembang di Pasar ASEAN
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Troy Franklin, COO South East Asia World Franchise Associates (WFA) meyakini kalau merek waralaba Indonesia memiliki peluang y...